Asal Muasal Virus Corona Berhasil Diungkap Ilmuwan China dan AS, Teridentifikasi Kelelawar Jenis Ini

Teka-teki mengenai asal muasal virus corona atau Covid-19 yang diduga berhubungan erat dengan kekelawar kini mulai diungkap para ilmuwan.

Para ilmuwan dari berbagai negara yang tergabung dalam sebuah tim, termasuk seorang peneliti senior di Institut Virologi Wuhan China, berhasil melacak dan menganalisis semua virus corona yang dikenal dalam kelelawar China.

Hasil genetik tersebut digunakan oleh para peneliti untuk melacak kemungkinan asal muasal virus corona baru hingga ke spesies kelelawar tapal kuda.

Dilansir via New York Times, Senin (1/6/2020), mereka juga menunjukkan berbagai macam virus ini ditemukan di China bagian selatan dan barat daya serta mendesak pemantauan lebih dekat virus kelelawar di daerah tersebut.

Mereka juga mendesak perlunya upaya yang lebih serius untuk mengubah perilaku manusia sebagai cara untuk mengurangi kemungkinan pandemi di masa depan.

Penelitian ini didukung oleh program hibah Amerika Serikat senilai lebih dari 3 juta dollar AS untuk EcoHealth Alliance, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di New York.

Kabar terbaru menyebutkan, program ini secara mengejutkan dibatalkan oleh National Institutes of Health.

Pembatalan program hibah ini menuai protes dari komunitas ilmiah.

Meski demikian, laporan penelitian ini telah diterima oleh jurnal Nature Communications, dan telah diposting di BioRxiv (dibaca: bio-archive), tempat penelitian ilmiah biasa dirilis sebelum publikasi.

Laporan ini memberikan gambaran sekilas tentang hasil pekerjaan yang telah didukung oleh program hibah tersebut.

Para peneliti, sebagian besar dari China dan Amerika Serikat, melakukan pencarian mendalam dan analisis virus corona pada kelelawar.

Tujuannya, mengidentifikasi hot spots bagi potensi penyebaran virus ini ke manusia, dan mengakibatkan berjangkitnya penyakit.

Kemungkinan besar dari kelelawar tapal kuda.

Ada cukup banyak bukti genetik yang menunjukkan bahwa virus corona penyebab Covid-19 berasal dari kelelawar.

Kelelawar tapal kuda, khususnya, dianggap sebagai inang utama karena punya riwayat dalam penyakit lainnya, seperti wabah SARS pada tahun 2003.

Meski demikian, tidak ada satu pun virus dari kelelawar yang memiliki kemiripan dengan virus corona penyebab Covid-19 sehingga meniadakan kemungkinan bahwa virus itu berpindah langsung dari kelelawar ke manusia. Nenek moyang langsung dari virus corona baru penyebab Covid-19 belum ditemukan.

Peneliti memperkirakan kemungkinan ada pada kelelawar atau hewan lain yang berperan sebagai hewan perantara dalam kasus penularan ke manusia.

Awalnya, trenggiling sempat dicurigai, meskipun analisis terbaru tentang virus corona pada trenggiling menunjukkan bahwa meskipun mungkin punya peranan dalam evolusi virus baru, tidak ada bukti bahwa trenggiling adalah sumber langsung.

Penelitian baru ini meliputi analisis kelelawar dan evolusi virus yang sangat mendukung dugaan asal virus pada kelelawar tapal kuda.

Namun, hal ini masih perlu dipastikan lagi terutama karena sejumlah besar informasi tentang virus tersebut belum diketahui.

Laporan itu juga menambahkan detail apa yang diketahui para ilmuwan tentang coronavirus pada kelelawar, bagaimana mereka berevolusi, dan ancaman apa yang mereka bawa.

Para peneliti mengumpulkan cairan oral dan dubur, serta sampel tinja dari kelelawar di gua-gua di seluruh China dari 2010 hingga 2015.

Sampel itu kemudian digunakan untuk pengurutan genetik untuk memperoleh 781 sekuens parsial dari virus.

Mereka membandingkan ini dengan informasi urutan yang sudah didokumentasikan dalam database komputer tentang virus corona pada kelelawar dan pada trenggiling.

Mereka menemukan bukti bahwa virus corona baru penyebab Covid-19 mungkin telah berevolusi di Provinsi Yunnan.

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut bisa terjadi di tempat lain di Asia Tenggara atau di luar China.

Pengawasan pada aktivitas manusia Keluarga kelelawar yang termasuk genus tapal kuda, Rhinolophus, tampaknya berasal dari China puluhan juta tahun yang lalu.

Mereka memiliki sejarah panjang evolusi bersama dengan virus corona, yang menurut laporan itu biasanya menyebar dari satu spesies kelelawar ke spesies lainnya.

Peter Daszak, presiden EcoHealth Alliance, menyebutkan, wilayah di mana China, Laos, Vietnam, dan Myanmar bertemu menjadi hotspots sesungguhnya bagi virus-virus ini.

Dia mengatakan, wilayah itu tidak hanya dicirikan oleh keanekaragaman kelelawar dan virus corona.

Tetapi juga oleh urbanisasi, pertumbuhan populasi, dan peternakan unggas dan aktivitas peternakan yang padat.

Semua faktor tersebut dapat menyebabkan virus menyebar dari satu spesies ke spesies lain, dan bisa menjadi penyebab penyebaran penyakit pada manusia.

Menurut Dr. Daszak, pengawasan tidak hanya harus dilakukan pada kelelawar tetapi juga pada manusia.

"Orang-orang membudidayakan satwa liar di seluruh China Selatan, puluhan ribu orang yang terlibat dalam industri ini, mereka harus mendapatkan tes rutin. Tidak hanya untuk Covid-19, tetapi juga untuk virus lain yang mungkin menginfeksi mereka," kara Daszak.

Dia mengakui, upaya tersebut akan menelan biaya sangat mahal.

Meski demikian, menurut dia, jika dibandingkan dengan biaya menangani pandemi, biaya untuk penelitian dan pengawasan ini bisa disebut sebagai investasi yang menguntungkan.

Sumber :https://bali.tribunnews.com/2020/06/03/asal-muasal-virus-corona-berhasil-diungkap-ilmuwan-china-dan-as-teridentifikasi-kelelawar-jenis-ini